Surat Al Jumu’ah ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan-golongan surat-surat Madaniyyah dan diturunkan sesudah surat Ash Shaf. Nama surat Al Jumu’ah diambil dari kata Al Jumu’ah yang terdapat pada ayat 9 surat ini yang artinya: hari Jum’at.

Pokok-pokok isinya:

Menjelaskan sifat-sifat orang-orang munafik dan sifat-sifat buruk pada umumnya, diantaranya berdusta, bersumpah palsu dan penakut; mengajak orang-orang mukmin supaya taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya dan supaya bersedia menafkahkan harta untuk menegakkan agama-Nya sebelum ajal datang.

Memang penat ketika saya seharian gak bisa nginstall Matlab sebagai tools TA saya. Sore ini, ya mudah-mudahan tulisan ini sedikit menghibur kepenatan ini. Ketika kita membicarakan penafsiran Al Qur’an, salah satu hal penting adalah pehamanan kita terhadap tata bahasa Arab. Kenapa? Ya karena Al Qur’an diturunkan dalam bahasa arab. Hikmah diturunkannya Al Qur’an dalam bahasa Arab sendiri adalah karena dulu ketika Allah Swt. mensyari’atkan agama islam, keadaan bangsa Arab sangatlah jahiliyah dengan tingkat kekufuran yang sangat. (……..الاعراب اشّد كفرا). Buruknya akhlak bangsa arab ketika itu berbanding terbalik dengan kebudayaan yang mereka miliki. Perkataan yang mereka keluarkan seringkali dikemas dalam bentuk syair, nadzom (lagu), dan jenis karya lainnya yang sebenarnya memiliki nilai sastra yang tinggi. Akan tetapi, tingginya sastra budaya bangsa arab ketika itu langsung kalah dengan indahnya bahasa Al Qur’an. Jadi, bisa dikatakan pada waktu itu para penyair yang tangguh sangat terpukul telak dengan hadirnya Al Qur’an dengan nilai sastra tiada tandingan. Bahkan sampai ada yang membenarkan bahwa tingginya nilai sastra Al Qur’an mengindikasikan bahwa ucapan (baca:Al Qur’an) itu bukan berasal dari makhluk. Nah, sebenarnya ilmu apa sih yang terkandung dalam Al Qur’an dilihat dari ketatabahasaannya? Ilmu Tata Bahasa Arab (Nahwu & Shorof) merupakan salah satunya. Dengan ilmu ini, kita bisa tahu jabatan suatu kata (kata dalam bahasa arab diartikan sebagai ‘kalimah’), arti yang cocok untuk bentuk (shighat itu), dan aturan pengharokatannya. Tidak hanya dengan ilmu itu, jika kita ingin lebih mengeksplor ma’nanya, kita minimal memerlukan tiga ilmu lainnya. Kombinasi tiga ilmu ini sering disebut ilmu Balaghoh. Ilmu yang pertama adalah Ilmu Ma’ani. Mengutip dari blog orang lain bahwa “Ilmu Ma’ani adalah pokok-pokok dan dasar-dasar untuk mengetahui tata cara menyesuaikan kalimat kepada kontekstualnya (muqtadhal halnya) sehingga cocok dengan tujuan yang dikehendaki.”. Gambarannya gini. Misalnya ketika kita berbicara di depan anak-anak dengan berbicara di depan bapak-bapak pasti kita bisa membedakan bukan? Nah, membedakannya itu dengan ilmu tersebut. Ilmu yang kedua adalah Ilmu Bayan. Dari blog yang sama, bahwa ilmu ini adalah “Dasar-dasar dan kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan satu makna dengan beberapa cara yang sebagiannya berbeda dengan sebagian yang lain dalam menjelaskan segi penunjukan terhadap keadaan makna tersebut.” Lebih faham kalau saya analogikan ilmu ini dengan ilmu majas dalam bahasa indonesia. Kan ada majas perbandingan, perumpamaan, dll. Ilmu yang ketiga adalah Ilmu Badi’. Sama sumbernya dengan dua di atas, ilmu ini adalah “Suatu ilmu yang dengannya diketahui segi-segi dan keistimewaan-keistimewaan yang dapat membuat kalimat semakin indah, bagus dan menguasinya dengan kebaikan dan keindahan setelah kalimat tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi serta jelas makna yang dikehendaki.”. Misalnya ketika kita berbicara di depan hadirin pada suatu acara resepsi seringkali kita berucap dengan pantun-pantun yang berima, berpola, dan bernada sehingga enak didengar. Nah, kalo di dalam bahasa arab namanya ilmu Badi’. Ilmu Pertama yang harus pertama dikaji, selanjutnya langsung ke ilmu yang kedua dan yang ketiga. Tentu dengan pemahaman ketiga ilmu itu ditambah Tata Bahasa Arab (Nahwu & Sharaf) tadi, kita insya Allah akan mudah untuk mempelajari isi Al Qur’an. Walaupun Al Qur’an berasal dari bahasa Arab, janganlah kita beranggapan bahwa Al Qur’an harus mengikuti kaidah keempat ilmu di atas, justru sebaliknya keempat ilmu itu bersumber dari Al Qur’an. Jadi, ketika kita sudah sangat menguasai keempat ilmu itu dan menemukan ketidaksesuaian aturan atau ma’na Al Qur’an dengan keempat ilmu tersebut, maka kita jangan berani menyalahkan Al Qur’an. Jika terjadi hal tersebut, berarti ilmu itu belum bisa mengambil seluruh sumber dari Al Qur’an (Subhanallah…). Seperti itulah yang saya fahami mengenai ilmu tersebut. Dan sebenarnya masih banyak ilmu yang lain lagi. Mohon masukan dan diskusinya… Terima Kasih,,,, (Kok Out of Topic dari judulnya ya??)

Seperti tahun sebelumnya, di akhir masa ajaran ini Pondok Pesantren Al Falah menyelenggarakan tes akhir tahun. Tes ini menguji kemampuan seluruh santri/at dalam memahami isi mata pelajaran yang diberikan selama satu tahun.

Bentuk tes ini diserahkan sepenuhnya kepada para ustadz/ah. Namun, jenis ujian biasanya kebanyakan dalam bentuk tes tulis. Untuk jenis pelajaran hafalan (baca:Tahfidz), para ustadz/ah menyelenggarakan juga jenis tes hafalan.

Kurikulum sebagai bagian yang paling bertanggujawab dalam penyelenggaraan tes ini bekerja sama dengan para ustadz/ah, pengurus pesantren serta pengasuh dalam melakukan serangkaian tes ini. Rangkaian tersebut terdiri dari sosialisasi tes, pelaksanaan tes, pemeriksaan hasil tes, pengumpulan nilai keseluruhan, dan kenaikan kelas.

Di akhir ajaran ini, kurikulum serta jajaran ustadz/ah berhasil menyeleksi santri/at yang berhasil naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi.

Selamat bagi yang sudah naik kelas.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan Ramadlan di Al Falah dibentuk Panitia Pelaksana Program Ramadlan yang lazim disingkat dengan P3R. Di tahun ini, sang ketua pelaksana dikomandoi oleh anak santri yang masih duduk di kelas 2 SMA bernama Aef Saefullah, sungguh terobosan yang luar biasa yang dilakukan Rois ‘Am saat ini (baca : K’ Arif Soleh). Kegiatan yang ditawarkan tidak terlalu berbeda dengan tahun sebelumnya, dan justru sekarang lebih di minimalisasi. Namun, walaupun seperti itu proposal yang dicetak justru sekarang diorientasikan untuk pihak luar. Sejauh ini, kegiatan yang dilaksanakan masih lancar karena event-event besarnya justru akan diadakan nanti sekitar minggu ketiga di bulan Ramadlan.

Semoga sukses panitia semuanya….

Seperti di postingan kami sebelumnya, kami selanjutnya akan menulis tentang Takhoshus di Pondok Pesantren Al Falah……

Takhoshus adalah kegiatan pengajian kilat di Al Falah yang diadakan tiap sesaat sebelum Ramadlan dan pas Bulan Ramdlan-nya. Sebelum kegiatan Ramadlan-nya sih sebenarnya disebut Pra-Takhoshush, tapi penamaan keseluruhan kegiatan ini dengan Takhoshush bukan merupakan suatu kesalahan pula.

Kira-kira inilah kitab referensi yang akan dikaji di Takhoshush ini:

Kelas A : Fiqhul Wadlih & Khulashosh Nabawiyyah jilid 1

Kelas B dan C : Qomi’utghyan, Riyadlulbadi’ah, dan Tafsir Jalalain juz 30.

Dengan alokasi waktu 64 jam selama kegiatan ini baik di pra dan pas Ramadlan, bagian kurikulum selaku pihak yang bertanggungjawab berharap, materi yang diajarkan bisa cukup membekali santri/at dan berbuah pahala yang besar khususnya di bulan yang penuh barokah nanti. Amin….

Inilah awal tahun ajaran baru 2008/2009 di Pondok Pesantren Al Falah. Dengan jumlah santri/at baru sekitar 20 orang, suasana awal tahun ajaran ini terasa lebih hangat….

Selamat datang adik-adikku…

Engkaulah tumpuan harapan agama Islam nantinya

Generasi yang harus siap menerima estafet perjuangan leluhurmu

Dalam mengembangkan agama ini seperti dulu yang dilakukan oleh Nabi akhir zamanmu

Memang secara resmi santri/at baru ini belum disemat menjadi santri/at Ponpes Al Falah karena belum melewati masa Ta’aruf santri/at baru. Namun, suasan keakraban sudah mulai terasa.

Semoga kalian semua bisa menjaga niat baik dari rumah untuk mencari ilmu agama yang bermanfaat. Amin..

Next : Pengajian Takhosus…

Sejauh ini kegiatan Imtihan di Pondok Pesantren Al Falah masih berjalan lancar. Bagian kurikulum yang mengurus kegiatan ini terlihat lebih terkoordinasi dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan dua orang yang  menjadi nahkoda kurikulum ini (Heru Haerullah dan Abdul Qodir Jaelani), kegiatan Imtihan yang merupakan tugas langsung dari pengasuh pondok dibuat lebih terlihat rapi dengan adanya absensi untuk setiap peserta di masing-masing kelas dan absensi pengawas di kelas tersebut. Bobot yang lumayan berat untuk setiap mata pengajian membuat para peserta Imtihan agak terlihat kerepotan menghadapi even yang diadakan rutin setiap tahun ajaran ini.

Evaluasi yang ditujukan untuk mengasah dan sekaligus memonitori kemampuan santri/at dan santriat ini berlangsung selama dua pekan. Satu pekan untuk kegiatan yang terjadwal dan satu pekan lagi untuk kegiatan praktek Imtihan yang belum tuntas dan Imtihan susulan bagi santri/at yang berhalangan hadir pada pekan sebelumnya. Para peserta Imtihan ini masih terlihat terlalu santai padahal Imtihan yang diberikan hanya sekali dalam setahun. Di akhir kepengurusan para santri/at akan naik ke kelas yang lebih tinggi jenjangnya atau tinggal kelas sesuai hasil dari Imtihan dan pengawasan selama setahun. Dari hasil keseluruhan Imtihan ini para Ustadz/ah bisa mengevaluasi juga proses pembelajaran yang diberikan kepada para santri/at sehingga mutu pengajian di Pondok Pesantren Al Falah bisa selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Tanggal 31 Mei 2008 bertepatan dengan malam minggu, di madrasah pengajian Pondok Pesantren Al Falah diadakan sosialisasi Program Kerja pengurus baru masa bakti 2008/2009 ke seluruh santri/at. Ustadz Arif Soleh selaku Rois ‘Am yang baru terpilih langsung memimpin acara tersebut. Acara diselenggarakan selama kurang lebih dua setengah jam dengan disajikan dalam bentuk presentasi tiap divisi yang ditampilkan dalam layar menggunakan Infocus. Antusias para santri/at menyambut acara tersebut cukup ramai apalagi ketika tim teknis presentasi memperlihatkan hasil dokumentasi yang disajikan dalam Media Moviemaker selama proses penyerahan Laporan Pertanggungjawaban Rois ‘Am sebelumnya sampai proses permilihan Rois ‘Am baru kemarin.

Dengan sosialisasi tersebut diharap seluruh santri/at dapat mengetahui program kerja yang telah direncanakan oleh pengurus dan bisa turut serta dalam mewujudkan program kerja tersebut.

Insya Allah Pondok Pesantren Al Falah Dago akan mengadakan Imtihan sebagai salah satu mediia untuk mengevaluasi kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di Pesantren ini. Dalam Imtihan ini, santri diwajibkan mengikuti seluruh tes yang meliputi mata pengajian yang sudah menjadi jadwal secara rutin. Tidak ada waktu tambahan untuk alokasi kegiatan Imtihan ini. Sebagai hasil dari Imtihan ini, para santri/at akan memperoleh suatu Syahadah sebagai suatu bukti prestasi mereka dalam kegiatan belajar mengaji.

Inilah acara Muhadloroh I pengurus masa bakti 2008/2009 Pondok Pensantren Al Falah Dago. Di acara ini, santri seperti biasanya menjadi seolah-olah seorang yang sedang berda’wah di depan umum. Selain itu, acara kreasi seni juga menjadi tambahan yang wajib untuk tiap pekan di Muhadloroh tahun ini. Pengurus mewajibkan setiap asrama agar mengirimkan suatu kreasi seni di tiap pekan. Tema kreasi seni minggu ini adalah pantun-pantunan dan solo karir akustikan gitar. Acara Muhadloroh ini rutin diadakan oleh santri/at di Pondok Pesantren Al Falah guna mengasah kemampuan santri/at dalam berda’wah agar siap terjun ke masyarakat sebagai agen perubah zaman.

Halaman Berikutnya »