Beliau adalah salah satu guru dari pendiri Pondok Pesantren Al Falah Dago. Berikut adalah adalah biografinya diambil dari http://4binajwa.wordpress.com/, selamat membaca.

KH. Badruzzaman lahir tahun 1900 di Pesantren Al-Falah Biru Garut, putra kelima dari sembilan bersaudara dari KH. Faqih bin KH. Adza’i. Beliau mengaji kepada ayahnya, dan pamannya dari pihak Ibu di Pesantren Pangkalan Tarogong yakni KH. R. Qurtubi dan selanjutnya pindah ke pondok yang di asuh oleh kakaknya KH. Bunyamin ( Syekh Iming ) di Ciparay Bandung. Kemudian ia mendalami ilmu di Pondok Pesantren Cilenga Tasikmalaya, selanjutnya di Pondok Pesantren Balerante Cirebon.

Pada tahun 1920 M Badruzzaman bersama kakaknya Bunyamin berangkat ke Tanah Suci untuk mendalami ilmu agama, bermukim selama 3 tahun. Tahun 1926 M beliau ke Makkah lagi untuk kedua kalinya bermukim selama 7 tahun. Di antara guru-gurunya di Makkah adalah : Syekh Alawi al-Maliki ( Mufti Makkah dari madzhab Maliki ) dan Syekh Sayyid Yamani ( Mufti Makkah dari madzhab Syafi’I ). Di Makkah, beliau mempunyai teman diskusi yaitu, KH. Kholil dari Bangkalan Madura. Sedangkan di Madinah beliau ber guru pada Syekh Umar Hamdan ( seorang ulama ahli hadits dari mazhab Maliki ).

Pada tahun 1933 KH. Badruzzaman kembali ke Tanah Air dan langsung memimpin Pondok Pesantren Al-Falah Biru melanjutkan ayahandanya bersama dengan kakaknya KH. Bunyamin. Di pesantrennya beliau mengem bangkan berbagai disiplin ilmu ke-Islaman : Tafsir, Hadits, Fiqih dan Usul Fiqih ilmu Tasawuf, Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Badi’, Bayan, ilmu Arud dan ilmu Maqulat.

Ketika Revolusi beliau terjun dan bergabung dengan Hizbullah memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda dengan mengkader para mujahid melalui khalwat. Karena Pesantren Al-Falah Biru tidak aman dan menjadi sasaran se rangan musuh, beliaupun mengungsi di Cikalong Wetan ( Purwakarta ), Padalarang, Majenang ( Jawa Tengah ) dan Taraju ( Tasik ) dengan terus mengembangkan ilmu agama di tempat-tempat itu.

Dalam kehidupan politik dan organisasi, KH. Badruz zaman beserta Kyiai lain diantaranya KH. Mustafa Kamil mendirikan Organisasi Al-Muwafaqoh sebagai wadah penya lur aspirasi umat Islam untuk mengusir penjajah Belanda dan dipercaya sebagai Ketua. Pada Tahun 1942 M, KH. Badruzzaman bersama dengan KH. Ahmad Sanusi Sukabu mi mendirikan Persatuan Ulama, untuk mengikat Ulama dalam satu wadah, tahun 1951 M organisasi ini berfusi dengan Persyarikatan Ummat Islam di Majalengka yang kemudian menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI).

Setelah kemerdekaan, tepatnya tahun 1945 M KH. Badruzzaman bergabung dengan Masyumi dan dipercaya sebagai anggota Majlis Syura dan kemudian aktif di PSII sebagai Ketua Masywi ( Majelis Syar’i wal Ibadat ) wilayah Jawa Barat dan pada tahun 1967 M atas ajakan keluarga dekatnya KH. Badruzzaman masuk Partai PERTI ( Persatuan Tarbiyah Islamiyah ) duduk sebagai Majlis Tahkim.

Beliau mempelajari kitab-kitab yang membahas Tarekat Tijaniyah diantaranya Kitab Jawahir al-Ma’ani yang disusun oleh Syekh Ali Harazim, Kitab Bughyah al-Mustafid yang disusun oleh Sayyid Al-Arobi dan Kitab Al-Jaisyulkafil yang dikarang oleh Muhammad Al-Sinqiti untuk selanjutnya mendiskusikan hasil Muthala’ahnya dengan Muqaddam Tarekat Tijaniyyah, yaitu dengan Syekh KH. Usman Dhomiri ( salah seorang Muqadam Tarekat Tijaniyyah Jawa Barat ), Syekh Abbas Buntet Cirebon, KH. Sya’roni dari Jatibarang ( Brebes Jawa Tengah ) untuk selanjutnya beliau mengamal kan Tarekat Tijaniyyah dengan mendapatkan ijazah dari Syekh Usman Dhomiri. Ketika beliau di Makkah beliau mendalami ilmu Tarekat Tijaniyyah, salah satu Tarikat Mu’tabaroh dari Syekh Ali At-Thoyyib ( Mufti Harommain dari madzhab Syafi’I ) dan beliau diangkat sebagai Muqoddam.

Dalam mengembangkan tarekat Tijaniyah, beliau mengangkat beberapa wakilnya di beberapa daerah diantaranya KH. Mukhtar Gozali di Pondok Pesantren Al-Falah, KH. Ma’mun, tokoh masyarakat dan ulama di Samarang ( Garut ), KH. Endung ( Ulama di Cioyod-Cibodas Garut ), KH. Imam Abdussalam ( Ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren Darul-Falihin Ciheulang Bandung ), KH. Mahmud ( Ulama di Padalarang Bandung ) dan KH. M. Fariqi ( Ulama di Pekalongan Jawa Tengah ).

KH. Badruzzaman masih sempat menyusun karya ilmiah dalam berbagai bidang disiplin ilmu ke-Islaman, diantaranya Risalah Tauhid dan Allohu Robbuna ( Bidang Tauhid ) Kaifiyat Shalat, Kaifiyat Wudhu ( bidang Fiqih ) yang mana kedua buku tersebut berdasarkan Fiqih Madzhab Syafi’i, selain itu beliau juga menyusun Nadhom Taqrib dan memberi Sarah Safinatun Naja karya Syekh Nawawi al-Bantani; Risalah ilmu Nahwu, Risalah Ilmu Saraf, Nadhom Jurumiah ( Bidang Nahwu Sharaf ); dan beliau menyusun ilmu Bayan dalam bentuk Nadhom; serta kitab Siklus Sunni ( bidang Tashawuf ). Beliau wafat pada awal tahun 1972 M tepatnya pada tanggal 3 Ramadhan 1390 H dalam usia kurang lebih 72 tahun, dan dimakamkan di samping masjid Pondok Pesantren Al-Falah Biru Garut.

 

Beliau adalah K.H. Saepudin Ahmad (Alm) dan lebih dikenal dengan sebutan Ustd. Idi. Dengan modal pengalaman perjuangan menegakkan agama Islam, beliau mendirikan suatu Pondok Pesantren di Kota Bandung Utara. Berdasarkan sejarah yang kami himpun, Pondok Pesantren Al Falah Dago yang beliau dirikan adalah gerbang pintu masuk kebudayaan agama Islam di Kota Bandung Utara, bersama pesantren-pesantren lainnya. Dengan tabi’at yang tegas, ulet, dan istiqomah, beliau melakukan da’wah agama Islam khususnya di daerah Bandung, umumnya di daerah Jawa Barat lainnya. Ketegasan beliau bisa disimak dari sejarah yang menceritakan bahwa beliau pernah ditangkap dan dimasukkan ke penjara karena dianggap berbahaya dalam da’wah agama Islam. Akan tetapi, setelah keluar dari penjara beliau tetap eksis dalam jalur da’wah yang telah membesarkan namanya.

Upaya pendirian lembaga pendidikan Islam Al Falah Dago beliau mulai dengan membangun mesjid Jami’ Al Falah. Hal ini didasarkan karena kebudayaan agama Islam rata-rata dimulai dari berdirinya suatu mesjid di suatu daerah. Beberapa waktu kemudian, beliau membangun Pondok Pesantren tipe salafi tradisional, yang mengkaji kitab kuning dan lebih fokus pada pengajian ilmu Tajwid (ilmu tata baca Al Qur’an). Karena kemahirannya, sampai saat ini di Pondok Pesantren Al Falah masih digunakan kitab tukilan beliau tentang ilmu tajwid. Dari Pondok Pesantren ini, terlahirlah orang-orang berprestasi seperti H. Umar dan Drs H Ahmad Asep Jaelani,MM (pendiri dan pembina Yayasan Miftahul Khoir), Harun Djuned, Ph.D (Dosen Fakultas Pertanian Unpad), dan masih banyak alumni berprestasi lainnya. Santri yang tinggal di Pesantren terdiri dari siswa yang bersekolah di lingkungan Yayasan Islam Al Falah, mahasiswa yang kuliah di sekitar Dago seperti di ITB, Unpad, Unisba, UPI Bandung, Unpas, Unikom, bahkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Merasa kurang terfasilitasi gerak da’wahnya, beliau kemudian mendirikan SD, Madrasah Tsanawiyah (sekarang SMP), SMA, dan terakhir SMK. Alhamdulillah, sampai pada akhir hayatnya beliau bisa menyelesaikan dibantu oleh rekan-rekannya di lingkungan Al Falah. Karena berawal dari inisiatif untuk berda’wah agama Islam, beliau tetap menyertakan mata pelajaran agama Islam di semua unit pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Islam Al Falah.

Berdasarkan sejarah yang ada, beliau sangat terkenal dengan ketegasannya dalam amar ma’ruf nahi munkar. Setiap kali waktu shubuh tiba, beliau tidak segan-segan untuk membangunkan santrinya mengajak ibadah walaupun harus dengan memukul santri tersebut. Bahkan, untuk santri yang sudah terbiasa, sekali mendengar suara sandalnya di asrama Pesantren, pasti dia langsung terbangun seraya siap melaksanakan ibadah di pagi hari.

Walaupun beliau seorang pemuka agama islam, tapi beliau jarang memperlihatkan ciri khasnya, terutama dalam berpakaian. Biasanya untuk ukuran seorang pendiri Pesantren di Jawa Barat, selendang dan peci putih adalah pakaian yang tidak selalu lepas. Akan tetapi, bagi beliau itu adalah pakaian yang sangat ‘mahal’ harganya, sehingga karena kerendahan hatinya, beliau jarang menggunakannya. Bagi seseorang yang sekilas melihatnya mungkin tidak akan terpikirkan bahwa beliau adalah Kiyai yang memiliki ilmu tinggi dan semangat da’wah yang besar.

Pada tahun 1999, beliau wafat di rumah beliau di sekitar lingkungan Pondok Pesantren Al Falah Dago. Salah satu pesan beliau adalah “Imah ieu lain imah apa. Tapi imah ieu imah pikeun anu daek ngurus Al Falah” (Rumah ini bukan rumah apa (sebutan beliau), tapi rumah bagi yang mau mengurus Al Falah). Subhanallah, terlihat sekali sifat Tawadlu’ yang dimiliki beliau. Berdasarkan washiat tersebut, saat ini rumah beliau ditempati oleh pengasuh Al Falah saat ini, yaitu Ustd. A. Suganda, S.Ag.

Itulah sedikit kisah mengenai beliau, mohon maaf apabila ada tulisan yang salah dan tidak berkenan di hati. Semoga arwah beliau diterima oleh Allah Swt., dan ditempatkan di tempat yang semestinya. Amin Ya Robbal Alamin

Pada tanggal 30 Januari 2010, Yayasan Islam Al Falah mengadakan acara Milad ke-60. Acara puncak pada Milad kali ini adalah pengajian Tabligh Akbar yang diisi oleh Ketua MUI Jawa Barat, Prof. K.H. Hafidz Utsman. Selain itu, pada acara itu digelar pula temu alumni yang diisi oleh acara diskusi dan ramah tamah antar para alumni di Aula Pondok Pesantren Al Falah Dago.

Surat Al Jumu’ah ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan-golongan surat-surat Madaniyyah dan diturunkan sesudah surat Ash Shaf. Nama surat Al Jumu’ah diambil dari kata Al Jumu’ah yang terdapat pada ayat 9 surat ini yang artinya: hari Jum’at.

Pokok-pokok isinya:

Menjelaskan sifat-sifat orang-orang munafik dan sifat-sifat buruk pada umumnya, diantaranya berdusta, bersumpah palsu dan penakut; mengajak orang-orang mukmin supaya taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya dan supaya bersedia menafkahkan harta untuk menegakkan agama-Nya sebelum ajal datang.

Memang penat ketika saya seharian gak bisa nginstall Matlab sebagai tools TA saya. Sore ini, ya mudah-mudahan tulisan ini sedikit menghibur kepenatan ini. Ketika kita membicarakan penafsiran Al Qur’an, salah satu hal penting adalah pehamanan kita terhadap tata bahasa Arab. Kenapa? Ya karena Al Qur’an diturunkan dalam bahasa arab. Hikmah diturunkannya Al Qur’an dalam bahasa Arab sendiri adalah karena dulu ketika Allah Swt. mensyari’atkan agama islam, keadaan bangsa Arab sangatlah jahiliyah dengan tingkat kekufuran yang sangat. (……..الاعراب اشّد كفرا). Buruknya akhlak bangsa arab ketika itu berbanding terbalik dengan kebudayaan yang mereka miliki. Perkataan yang mereka keluarkan seringkali dikemas dalam bentuk syair, nadzom (lagu), dan jenis karya lainnya yang sebenarnya memiliki nilai sastra yang tinggi. Akan tetapi, tingginya sastra budaya bangsa arab ketika itu langsung kalah dengan indahnya bahasa Al Qur’an. Jadi, bisa dikatakan pada waktu itu para penyair yang tangguh sangat terpukul telak dengan hadirnya Al Qur’an dengan nilai sastra tiada tandingan. Bahkan sampai ada yang membenarkan bahwa tingginya nilai sastra Al Qur’an mengindikasikan bahwa ucapan (baca:Al Qur’an) itu bukan berasal dari makhluk. Nah, sebenarnya ilmu apa sih yang terkandung dalam Al Qur’an dilihat dari ketatabahasaannya? Ilmu Tata Bahasa Arab (Nahwu & Shorof) merupakan salah satunya. Dengan ilmu ini, kita bisa tahu jabatan suatu kata (kata dalam bahasa arab diartikan sebagai ‘kalimah’), arti yang cocok untuk bentuk (shighat itu), dan aturan pengharokatannya. Tidak hanya dengan ilmu itu, jika kita ingin lebih mengeksplor ma’nanya, kita minimal memerlukan tiga ilmu lainnya. Kombinasi tiga ilmu ini sering disebut ilmu Balaghoh. Ilmu yang pertama adalah Ilmu Ma’ani. Mengutip dari blog orang lain bahwa “Ilmu Ma’ani adalah pokok-pokok dan dasar-dasar untuk mengetahui tata cara menyesuaikan kalimat kepada kontekstualnya (muqtadhal halnya) sehingga cocok dengan tujuan yang dikehendaki.”. Gambarannya gini. Misalnya ketika kita berbicara di depan anak-anak dengan berbicara di depan bapak-bapak pasti kita bisa membedakan bukan? Nah, membedakannya itu dengan ilmu tersebut. Ilmu yang kedua adalah Ilmu Bayan. Dari blog yang sama, bahwa ilmu ini adalah “Dasar-dasar dan kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan satu makna dengan beberapa cara yang sebagiannya berbeda dengan sebagian yang lain dalam menjelaskan segi penunjukan terhadap keadaan makna tersebut.” Lebih faham kalau saya analogikan ilmu ini dengan ilmu majas dalam bahasa indonesia. Kan ada majas perbandingan, perumpamaan, dll. Ilmu yang ketiga adalah Ilmu Badi’. Sama sumbernya dengan dua di atas, ilmu ini adalah “Suatu ilmu yang dengannya diketahui segi-segi dan keistimewaan-keistimewaan yang dapat membuat kalimat semakin indah, bagus dan menguasinya dengan kebaikan dan keindahan setelah kalimat tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi serta jelas makna yang dikehendaki.”. Misalnya ketika kita berbicara di depan hadirin pada suatu acara resepsi seringkali kita berucap dengan pantun-pantun yang berima, berpola, dan bernada sehingga enak didengar. Nah, kalo di dalam bahasa arab namanya ilmu Badi’. Ilmu Pertama yang harus pertama dikaji, selanjutnya langsung ke ilmu yang kedua dan yang ketiga. Tentu dengan pemahaman ketiga ilmu itu ditambah Tata Bahasa Arab (Nahwu & Sharaf) tadi, kita insya Allah akan mudah untuk mempelajari isi Al Qur’an. Walaupun Al Qur’an berasal dari bahasa Arab, janganlah kita beranggapan bahwa Al Qur’an harus mengikuti kaidah keempat ilmu di atas, justru sebaliknya keempat ilmu itu bersumber dari Al Qur’an. Jadi, ketika kita sudah sangat menguasai keempat ilmu itu dan menemukan ketidaksesuaian aturan atau ma’na Al Qur’an dengan keempat ilmu tersebut, maka kita jangan berani menyalahkan Al Qur’an. Jika terjadi hal tersebut, berarti ilmu itu belum bisa mengambil seluruh sumber dari Al Qur’an (Subhanallah…). Seperti itulah yang saya fahami mengenai ilmu tersebut. Dan sebenarnya masih banyak ilmu yang lain lagi. Mohon masukan dan diskusinya… Terima Kasih,,,, (Kok Out of Topic dari judulnya ya??)

Seperti tahun sebelumnya, di akhir masa ajaran ini Pondok Pesantren Al Falah menyelenggarakan tes akhir tahun. Tes ini menguji kemampuan seluruh santri/at dalam memahami isi mata pelajaran yang diberikan selama satu tahun.

Bentuk tes ini diserahkan sepenuhnya kepada para ustadz/ah. Namun, jenis ujian biasanya kebanyakan dalam bentuk tes tulis. Untuk jenis pelajaran hafalan (baca:Tahfidz), para ustadz/ah menyelenggarakan juga jenis tes hafalan.

Kurikulum sebagai bagian yang paling bertanggujawab dalam penyelenggaraan tes ini bekerja sama dengan para ustadz/ah, pengurus pesantren serta pengasuh dalam melakukan serangkaian tes ini. Rangkaian tersebut terdiri dari sosialisasi tes, pelaksanaan tes, pemeriksaan hasil tes, pengumpulan nilai keseluruhan, dan kenaikan kelas.

Di akhir ajaran ini, kurikulum serta jajaran ustadz/ah berhasil menyeleksi santri/at yang berhasil naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi.

Selamat bagi yang sudah naik kelas.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan Ramadlan di Al Falah dibentuk Panitia Pelaksana Program Ramadlan yang lazim disingkat dengan P3R. Di tahun ini, sang ketua pelaksana dikomandoi oleh anak santri yang masih duduk di kelas 2 SMA bernama Aef Saefullah, sungguh terobosan yang luar biasa yang dilakukan Rois ‘Am saat ini (baca : K’ Arif Soleh). Kegiatan yang ditawarkan tidak terlalu berbeda dengan tahun sebelumnya, dan justru sekarang lebih di minimalisasi. Namun, walaupun seperti itu proposal yang dicetak justru sekarang diorientasikan untuk pihak luar. Sejauh ini, kegiatan yang dilaksanakan masih lancar karena event-event besarnya justru akan diadakan nanti sekitar minggu ketiga di bulan Ramadlan.

Semoga sukses panitia semuanya….

Seperti di postingan kami sebelumnya, kami selanjutnya akan menulis tentang Takhoshus di Pondok Pesantren Al Falah……

Takhoshus adalah kegiatan pengajian kilat di Al Falah yang diadakan tiap sesaat sebelum Ramadlan dan pas Bulan Ramdlan-nya. Sebelum kegiatan Ramadlan-nya sih sebenarnya disebut Pra-Takhoshush, tapi penamaan keseluruhan kegiatan ini dengan Takhoshush bukan merupakan suatu kesalahan pula.

Kira-kira inilah kitab referensi yang akan dikaji di Takhoshush ini:

Kelas A : Fiqhul Wadlih & Khulashosh Nabawiyyah jilid 1

Kelas B dan C : Qomi’utghyan, Riyadlulbadi’ah, dan Tafsir Jalalain juz 30.

Dengan alokasi waktu 64 jam selama kegiatan ini baik di pra dan pas Ramadlan, bagian kurikulum selaku pihak yang bertanggungjawab berharap, materi yang diajarkan bisa cukup membekali santri/at dan berbuah pahala yang besar khususnya di bulan yang penuh barokah nanti. Amin….

Inilah awal tahun ajaran baru 2008/2009 di Pondok Pesantren Al Falah. Dengan jumlah santri/at baru sekitar 20 orang, suasana awal tahun ajaran ini terasa lebih hangat….

Selamat datang adik-adikku…

Engkaulah tumpuan harapan agama Islam nantinya

Generasi yang harus siap menerima estafet perjuangan leluhurmu

Dalam mengembangkan agama ini seperti dulu yang dilakukan oleh Nabi akhir zamanmu

Memang secara resmi santri/at baru ini belum disemat menjadi santri/at Ponpes Al Falah karena belum melewati masa Ta’aruf santri/at baru. Namun, suasan keakraban sudah mulai terasa.

Semoga kalian semua bisa menjaga niat baik dari rumah untuk mencari ilmu agama yang bermanfaat. Amin..

Next : Pengajian Takhosus…

Sejauh ini kegiatan Imtihan di Pondok Pesantren Al Falah masih berjalan lancar. Bagian kurikulum yang mengurus kegiatan ini terlihat lebih terkoordinasi dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan dua orang yang  menjadi nahkoda kurikulum ini (Heru Haerullah dan Abdul Qodir Jaelani), kegiatan Imtihan yang merupakan tugas langsung dari pengasuh pondok dibuat lebih terlihat rapi dengan adanya absensi untuk setiap peserta di masing-masing kelas dan absensi pengawas di kelas tersebut. Bobot yang lumayan berat untuk setiap mata pengajian membuat para peserta Imtihan agak terlihat kerepotan menghadapi even yang diadakan rutin setiap tahun ajaran ini.

Evaluasi yang ditujukan untuk mengasah dan sekaligus memonitori kemampuan santri/at dan santriat ini berlangsung selama dua pekan. Satu pekan untuk kegiatan yang terjadwal dan satu pekan lagi untuk kegiatan praktek Imtihan yang belum tuntas dan Imtihan susulan bagi santri/at yang berhalangan hadir pada pekan sebelumnya. Para peserta Imtihan ini masih terlihat terlalu santai padahal Imtihan yang diberikan hanya sekali dalam setahun. Di akhir kepengurusan para santri/at akan naik ke kelas yang lebih tinggi jenjangnya atau tinggal kelas sesuai hasil dari Imtihan dan pengawasan selama setahun. Dari hasil keseluruhan Imtihan ini para Ustadz/ah bisa mengevaluasi juga proses pembelajaran yang diberikan kepada para santri/at sehingga mutu pengajian di Pondok Pesantren Al Falah bisa selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Halaman Berikutnya »